
Ringkas: Setelah lama membandingkan SSD hanya dari kecepatan baca, saya belajar bahwa performa nyata lebih ditentukan oleh jenis NAND flash, cache SLC, dan keberadaan DRAM. SSD murah bisa tampak cepat di atas kertas, tetapi melambat saat beban kerja berat.
Selama lebih dari satu dekade merakit PC, saya belajar satu hal: jangan pernah sepenuhnya percaya pada spesifikasi yang diiklankan. Komponen PC memang bisa mencapai kecepatan tinggi yang ditonjolkan dengan angka merah, tetapi biasanya hanya dalam kondisi yang sangat spesifik.
SSD adalah contohnya. Kecepatan yang tertera di kemasan belum tentu bisa dipertahankan terus-menerus, dan bukan karena produsennya berbohong. Kemampuan mempertahankan kecepatan itu bergantung pada konfigurasi NAND flash, yang seharusnya menjadi faktor terbesar saat memilih SSD berikutnya.
Mengapa kecepatan SSD yang diiklankan tidak menceritakan semuanya
Jenis NAND flash menentukan performa di dunia nyata
SSD menggantikan hard drive fisik konvensional dengan mekanisme berbasis flash tanpa komponen bergerak, sehingga menawarkan performa lebih cepat dan akses data instan. Pengguna PC rata-rata akan baik-baik saja dengan hampir semua SSD dibanding HDD, tetapi seiring waktu dan makin kompleksnya alur kerja, performa SSD menjadi pertimbangan besar.
Sekarang, Anda bisa membeli SSD semata-mata berdasarkan kecepatan yang diiklankan, misalnya kecepatan baca 14.000MB/s untuk drive PCIe 5.0. Namun, drive itu mungkin tidak mampu mempertahankan kecepatan tersebut dalam waktu lama.
Untuk benar-benar memahami alasannya, penting mengetahui perbedaan tipe memori NAND flash. Empat tipe utamanya adalah:
- SLC: Single-Level Cell, menyimpan satu bit per sel, yaitu 0 atau 1
- MLC: Multi-Level Cell, menyimpan 2 bit per sel
- TLC: pengembangan dari MLC, Triple-Level Cell, dapat menyimpan hingga 3 bit sekaligus
- QLC: jenis MLC lainnya, Quad-Level Cell, dapat menyimpan hingga 4 bit secara bersamaan
Karena SSD memakai memori flash, jumlah siklus program dan erase-nya terbatas dan umumnya lebih cepat aus dibanding HDD. Di sinilah jenis memori NAND flash berperan. Semakin sedikit bit per sel, semakin tinggi daya tahan dan kecepatan, karena controller SSD—prosesor yang mengelola sel memori—memiliki lebih sedikit pekerjaan untuk menjaga sel tetap stabil, dan batas siklus program serta erase juga menjadi lebih longgar. Jenis NAND flash yang menyimpan lebih banyak bit cenderung lebih lambat dan punya daya tahan lebih rendah karena membutuhkan keadaan muatan tegangan tinggi yang lebih presisi untuk menyimpan data.
Namun, memori flash seperti SLC atau MLC yang menyimpan lebih sedikit bit per sel lebih mahal untuk diproduksi dibanding QLC atau TLC karena jumlah selnya lebih sedikit dan bit per sel lebih banyak.
Bagaimana SLC caching menyamarkan kecepatan puncak SSD
Kecepatan burst hilang setelah buffer yang diemulasi penuh
SSD Anda bisa mengemulasikan memori MLC sebagai SLC, dan dari situlah kecepatan yang lebih tinggi berasal. Jadi, SSD QLC yang mengemulasi SLC mungkin memberi kecepatan lebih cepat pada bagian 250GB dari kapasitas 1TB, jika seluruh ruang masih kosong. Artinya, Anda bisa mendapatkan kecepatan ala SLC selama beberapa menit pertama proses penulisan, lalu kecepatan turun saat cache SLC terisi.
SSD hanya melambat sementara; setelah beban kerja selesai, SSD membangun kembali sebagian cache SLC di latar belakang dengan memindahkan dan mengonversi data. Perilakunya bisa berbeda tergantung jenis MLC yang dipakai SSD Anda, apakah 4-bit atau 3-bit per sel.
Jadi, ketika Anda melihat kecepatan tulis yang diiklankan di lembar spesifikasi SSD, angka tertinggi itu sebagian besar mewakili cache SLC, dan performanya bisa turun saat cache tersebut terisi dalam beban kerja nyata. Misalnya, SSD dengan kecepatan tulis tertera 5.000 MB/s bisa turun menjadi 500 MB/s-1GB/s setelah cache SLC penuh.
Hal yang perlu diperiksa sebelum membeli SSD berikutnya
Ikhtisar lembar spesifikasi dan benchmark untuk kecepatan tulis jangka panjang
Walaupun jenis memori NAND flash biasanya tidak ditampilkan mencolok di headline listing SSD, saya sarankan memeriksa spesifikasi detail. Jika SSD itu masih tidak mencantumkannya, saya sarankan membaca ulasan dan situs seperti TechPowerUp, yang memiliki basis data SSD yang sangat lengkap.
Selain itu, SSD murah biasanya memakai sel flash TLC/QLC. SSD dengan 2 bit per sel menawarkan keseimbangan yang tepat antara performa dan harga. Dengan harga NAND yang melonjak akibat kelangkaan memori yang dipicu AI, Anda perlu lebih cermat saat membeli. Membeli SSD dengan konfigurasi QLC dan kecepatan yang diiklankan tinggi mungkin terasa seperti penawaran bagus, tetapi Anda akan merasakan dampaknya pada beban kerja berat ketika cache pseudo-SLC habis.
Selain itu, SSD SLC biasanya tidak dijual ke konsumen karena harganya sangat mahal dan umumnya dipakai di lingkungan enterprise, jadi saya tidak menyarankan Anda mencari SSD SLC. Sebagian besar SSD juga memakai konfigurasi campuran lintas berbagai ekstensi MLC untuk menekan biaya, jadi hal itu juga perlu diingat.
Jika Anda mengincar SSD tercepat di pasar, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan selain sel memori NAND flash. Untuk drive NVMe, DRAM adalah spesifikasi tersembunyi yang sering diabaikan banyak orang; DRAM menyediakan pool memori cepatnya sendiri untuk memetakan semua data di seluruh SSD. Tanpa DRAM, NVMe mengandalkan sebagian RAM untuk memetakan kumpulan data, yang lebih lambat. Sebagai patokan umum, drive 1TB punya sekitar 1GB DRAM.
Poin penting
- Spesifikasi kecepatan SSD
- Jenis NAND flash
- SLC caching
- TLC dan QLC
- DRAM pada NVMe
Pada akhirnya, artikel ini menegaskan bahwa memilih SSD tidak cukup hanya melihat angka kecepatan baca yang diiklankan. Jenis NAND flash, perilaku cache SLC, dan keberadaan DRAM sama-sama menentukan performa yang akan Anda rasakan dalam penggunaan nyata. Sumber: https://www.makeuseof.com/stopped-comparing-ssds-read-speed-learning-what-makes-cheap-drives-slow/