Ringkas: Chromecast generasi lama masih dipakai penulis karena proses casting dari ponsel terasa lebih cepat dan sederhana daripada Google TV. Perangkat 3rd gen miliknya juga masih berguna meski TV Android sudah punya Chromecast bawaan.
Pada 5 September 2026, kabar bahwa Chromecast original baru saja mendapat pembaruan tak terduga disambut positif oleh penulis, yang masih setia memakai Chromecast 3rd gen miliknya. Alasan utamanya sederhana: pengalaman casting dari ponsel terasa jauh lebih praktis dibanding Google TV yang lebih ramai, lebih panjang, dan sering terasa lambat.

Chromecast lama masih lebih praktis daripada Google TV
Penulis menyebut dirinya masih menyukai kesederhanaan dongle HDMI generasi awal, dan lebih memilih cara lama melemparkan konten dari ponsel ke TV ketimbang harus melewati iklan dan antarmuka Google TV yang dianggap terlalu verbose serta sering lag. Ia mengaku masih terikat pada pengalaman smart TV pertamanya, yaitu menonton dengan cara casting langsung dari ponsel.
Chromecast 3rd gen itu kini terpasang di bagian belakang Android TV miliknya, meski TV tersebut sudah memiliki kemampuan Chromecast bawaan. Sekilas ini memang tampak berlebihan, tetapi menurut penulis perangkat itu tetap berguna karena pengalaman casting di TV tersebut tidak memuaskan.
Kenapa Chromecast 3rd gen masih dipakai
TV TCL yang dipakai penulis memang terjangkau, tetapi bukan yang tercepat di pasaran. Saat mengirim video dari browser laptop atau tablet, muncul masalah sink audio dan kualitas gambar yang buruk, sehingga streaming cepat menjadi tidak nyaman ditonton.
Masalah serupa juga terjadi saat casting dari aplikasi Android seperti Jellyfin atau YouTube, karena butuh waktu lama untuk membuka aplikasi atau layanan TV yang kompatibel. Menurut penulis, perangkat TV yang terasa lebih rendah kelasnya itu makin terbebani pembaruan antarmuka, sampai membuatnya merindukan pengalaman yang lebih sederhana, lebih cepat, dan tidak terlalu penuh fitur.
Ia bahkan pernah mengembalikan Chromecast with Google TV yang lebih canggih dan lebih mahal, karena perangkat itu terlalu lambat untuk benar-benar digunakan menonton. Sayangnya, ia tidak bisa selamanya lepas dari UI TV yang dianggap menyebalkan itu.

Kualitas casting dan batasan perangkat lama
Meski begitu, Chromecast lawasnya tetap menjalankan tugas tanpa banyak penundaan. Penulis mengakui perangkat yang menua itu kadang mengalami kompresi berat dan buffering saat streaming dari laptop yang berada dekat dengannya. Ia sendiri tidak yakin apakah masalahnya berasal dari jaringan atau dari proses casting, meski menurutnya kecil kemungkinan penyebabnya adalah jaringan, karena koneksi Wi-Fi 100 Mbps di ruang tamunya tergolong stabil.
Untuk casting dari ponsel, pengalaman yang didapat masih sangat baik. Hanya saja, tidak semua aplikasi kini memberi perhatian yang sama terhadap fitur casting seperti dulu. Namun saat fitur itu didukung, casting kerap terasa lebih baik daripada membuka aplikasi TV, terutama jika tujuannya adalah memulai tontonan secepat mungkin.
Ada kepuasan tersendiri saat memilih konten dari berbagai aplikasi di ponsel lalu langsung mengirimkannya ke Chromecast lama. Tidak ada UI yang macet, tidak ada kolom pencarian remote TV yang merepotkan, dan tidak ada pembaruan lambat yang harus dikhawatirkan. Casting, menurut penulis, selalu terasa sebagai perluasan yang sangat alami dari pengalaman media smart home, dan karena alasan itu saja ia meragukan akan berhenti memakainya.
Dengan meminjam istilah dari Apple, perangkat itu “just works”. Penulis bahkan menilai ini mungkin salah satu produk Google yang mampu melampaui misi awalnya dan tetap lebih berguna daripada penerus-penerusnya. Ia pun memberi penghormatan kepada Chromecast original dan berharap perangkat itu masih punya banyak tahun streaming ke depan.
Poin penting
- Chromecast 3rd gen masih dipakai
- Google TV terasa lambat
- Casting dari ponsel lebih praktis
- TV TCL murah kurang responsif
- Wi‑Fi 100 Mbps stabil
- Chromecast original masih berguna
Sumber: https://www.androidauthority.com/using-old-chromecast-in-2026-3706737/