Minggu, 06 September 2026, September 06, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-06T19:42:18Z
StreamingTechTutorial

Roku Mengubah Home Screen, Pengguna Mulai Kecewa

Minggu, 06 September 2026

Roku Mengubah Home Screen, Pengguna Mulai Kecewa

Ringkas: Roku yang dulu terasa sederhana dan minim gangguan kini makin dipenuhi iklan, rekomendasi, dan promosi. Perubahan ini membuat home screen Roku jauh lebih ramai, meski perusahaan punya alasan bisnis yang jelas.

Roku yang dulu terasa seperti satu-satunya platform streaming yang belum “menjual diri” kini berubah arah. Jika Anda sudah lama memakai Roku, Anda mungkin kecewa melihat bagaimana tampilan utama dan sistem operasinya makin dipenuhi iklan, rekomendasi, dan fitur monetisasi lain.

Roku dulu menjaga tampilan tetap sederhana

Pada awalnya, home screen Roku dibiarkan tidak terlalu mengganggu. Berbeda dari para pesaing yang menjadikan layar TV sebagai ajang perebutan data konsumen, penguncian ke ekosistem ritel, atau dorongan layanan langganan mereka sendiri, Roku tidak melakukan hal itu. Penulis artikel bahkan merasa Roku lebih baik daripada Amazon selama bertahun-tahun karena sistem ini terasa seperti sistem open-source yang memakai merek sendiri.

Roku juga tidak berusaha membanjiri pengguna dengan integrasi smart home yang rumit atau memaksa orang menelusuri perangkat lunak yang berat dan lambat. Platform ini memang melacak beberapa hal, tetapi tidak terasa invasif. Roku tetap pada fungsinya: platform streaming media yang andal untuk siapa saja yang hanya ingin menonton, bukan perangkat pintar yang memaksa Anda melihat iklan di layar yang sudah Anda bayar mahal.

Amazon Fire TV Vega OS disebut sebagai contoh antarmuka yang ramai dan sangat korporat, karena menampilkan konten bersponsor dan bahkan video iklan yang otomatis diputar saat TV dinyalakan. Apple TV memang tampil lebih bersih, tetapi pengguna harus berurusan dengan hub aplikasi Apple TV yang terpusat, bukan memperlakukan aplikasi lain sebagai entitas independen. Google TV juga punya masalahnya sendiri di area itu.

Intinya, Roku dulu menawarkan jalan keluar dari kebijakan monetisasi yang diterapkan hampir semua penyedia lain. Roku mungkin tidak secepat atau seintuitif beberapa aplikasi lain, tetapi setidaknya terasa milik pengguna. Sayangnya, itu tidak lagi berlaku sekarang.

Update baru Roku menambah terlalu banyak gangguan

Roku sudah beberapa kali meluncurkan perubahan desain, termasuk tahun ini, dan arahnya semakin jelas: layar utama makin dipenuhi barang tambahan. Perusahaan menjelaskan perubahan itu dengan bahasa korporat yang menekankan era baru Roku yang “untuk pengguna”, tetapi pada praktiknya perubahan ini membuat Roku bergerak lebih mirip Amazon dan menjauh dari Roku yang dulu disukai banyak pengguna.

Alasan resmi yang diberikan adalah bahwa sistem menjadi lebih personal dan membantu pengguna. Namun, itu juga alasan yang sering terdengar dari perusahaan yang ingin menjual data Anda tanpa mengakuinya.

Perubahan terbesar adalah etalase “Top Picks for You”. Kartu pratinjau yang lebih besar ini lebih mirip deep link yang melewati etalase aplikasi untuk langsung membawa pengguna ke film, serial, atau acara langsung.

Format ini memang membawa rekomendasi personal yang nyata, tetapi juga bercampur dengan penempatan iklan berbayar dan promosi bersponsor. Artinya, fitur ini berguna bagi sebagian orang, sekaligus menjadi lokasi utama bagi pengiklan.

Roku juga mendorong pengguna agar tidak langsung membuka layanan streaming tertentu terlebih dahulu. Pengguna kini melihat konten yang dikelompokkan berdasarkan kategori, genre, dan suasana, dengan hub untuk genre seperti komedi, film, olahraga, dan konten gratis.

Di atas semua itu ada area For You dengan “Your Daily Scoop”, yang memakai AI untuk menyusun daftar rekomendasi yang diperbarui setiap jam dan diklaim tidak ada hubungannya dengan pengiklan. AI di sini berarti kecerdasan buatan, yaitu sistem yang menyusun rekomendasi secara otomatis berdasarkan data tertentu.

Masalahnya, semua ini terasa seperti terlalu banyak hal yang dipaksakan ke pengguna. Dulu penulis bisa mengabaikannya, tetapi sekarang semua itu harus dihadapi, dan setiap kali TV dinyalakan, Roku terasa sedikit lebih menyebalkan.

Roku mencoba menutup biaya lewat iklan

Perubahan ini memang menjengkelkan, tetapi masuk akal dari sisi bisnis. Roku menjual perangkat keras dengan harga yang lebih murah agar bisa menghasilkan uang dari iklan. Tampilan baru Roku jelas tidak memenangkan banyak penggemar. Pengguna sekarang harus menggulir melewati konten bersponsor, baris rekomendasi, dan iklan display besar hanya untuk mencapai grid aplikasi dasar.

Jika Anda memakai Roku TV, pembaruan ini juga menyembunyikan input asli seperti port HDMI di dalam menu yang diciutkan atau area Quick Access yang bermasalah. Akibatnya, akses ke fungsi dasar TV jadi lebih sulit.

Roku memang punya pengaturan kustomisasi bawaan untuk menyembunyikan baris rekomendasi, menonaktifkan dock Quick Access, dan mengembalikan beberapa elemen lama. Namun, pengaturan itu tidak menghapus semua iklan; ia hanya menghilangkan sebagian perubahan. Ini mungkin dimaksudkan sebagai kompromi, tetapi sulit menyebutnya solusi yang baik ketika pengguna sudah membayar TV tersebut.

Meski begitu, logika bisnisnya memang tidak sepenuhnya salah. Roku merugi setiap kali menjual TV, mirip menjalankan divisi perangkat keras dengan kerugian. Karena itu, perusahaan berusaha mendapatkan uang dari cara lain, dan tampaknya strategi itu berhasil.

Roku akhirnya hadir di rumah pengguna dengan harga lebih murah dari seharusnya, lalu menutup selisihnya lewat iklan yang harus mereka lihat. Lalu, dalam jangka panjang, perusahaan memperoleh keuntungan dari iklan yang bisa ditampilkan TV selama masa pakainya.

Roku butuh simpati, meski tetap mengganggu

Roku memang pantas mendapat lebih banyak simpati daripada sekadar dianggap jahat. Menjual perangkat keras dengan kerugian adalah risiko besar, dan perusahaan harus menutup biaya itu dari sumber lain. Itu tidak membuat pengalaman pengguna jadi kurang menjengkelkan, tetapi membuat keluhan terhadap Roku lebih sulit dipertahankan ketika TV yang dibeli harganya memang lebih murah dari seharusnya.

Pada akhirnya, hampir semua platform besar melakukan versi serupa dari strategi ini. Jadi, jika Anda mencari perangkat streaming yang benar-benar tidak mengganggu, pilihannya semakin sedikit.

Poin penting

  • Home screen Roku yang bersih
  • Top Picks for You
  • Your Daily Scoop berbasis AI
  • Quick Access dan HDMI tersembunyi
  • Roku menjual hardware lebih murah
  • Monetisasi lewat iklan

Roku kini bergerak dari platform yang dulu terasa sederhana menuju antarmuka yang lebih padat iklan dan rekomendasi. Meski langkah itu masuk akal secara bisnis, pengguna yang menyukai kesederhanaan Roku jelas punya alasan untuk merasa kecewa. Sumber: https://www.howtogeek.com/roku-destroying-clean-home-screen-convinced-me-buy-it-in-the-first-place/

Lihat juga