Sabtu, 05 September 2026, September 05, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-06T06:02:19Z
AndroidTechTutorial

Sensor Sidik Jari dalam Layar Kalah dari Ponsel Lipat

Sabtu, 05 September 2026

Sensor Sidik Jari dalam Layar Kalah dari Ponsel Lipat

Ringkas: Sensor sidik jari dalam layar belum mampu menandingi kecepatan, keandalan, dan ergonomi pemindai kapasitif pada tombol daya ponsel lipat.

Meski terlihat mutakhir, ponsel lipat sebenarnya masih memiliki banyak kesamaan dengan ponsel berbentuk batang biasa. Namun, salah satu perbedaan terbesarnya tidak berkaitan dengan layar fleksibel: pemindai sidik jari pada tombol daya, fitur yang dinilai dapat langsung meningkatkan pengalaman penggunaan ponsel biasa.

Di tengah musim peluncuran ponsel lipat, penulis telah mencoba tiga model utama, yaitu Galaxy Z Fold 8 Ultra, Pixel 11 Pro Fold, dan Galaxy Z Fold 8. Ketiganya menggunakan pemindai sidik jari bergaya lama.

Sensor sidik jari dalam layar masih belum ideal

Smartphone dengan sensor sidik jari “in-display” atau “under-display” telah tersedia sejak 2018. Cara kerjanya juga berubah dari waktu ke waktu. Ponsel generasi awal memakai pemindai optik, yang pada dasarnya merupakan kamera kecil dengan cahaya terang. Pendekatan berteknologi sederhana ini tidak ideal dari sisi keamanan.

Saat ini, sebagian besar ponsel dengan sensor dalam layar menggunakan gelombang ultrasonik untuk memetakan sidik jari. Pemindai ultrasonik tersebut lebih cepat dan jauh lebih aman. Teknologi ini bahkan dapat memenuhi standar keamanan biometrik Class 3, sehingga bisa digunakan untuk mengautentikasi pembayaran seluler dan mengakses aplikasi sensitif.

Gagasan menempatkan pemindai sidik jari secara tersembunyi di bawah layar memang terdengar menarik dan awalnya menimbulkan antusiasme. Namun, teknologinya sudah hadir selama hampir satu dekade dan memiliki banyak waktu untuk berkembang. Kenyataannya, sensor sidik jari bergaya lama dahulu lebih baik dan hingga kini masih tetap lebih unggul.

Keluhan yang sama pernah disampaikan tiga tahun lalu, tetapi kondisinya tidak banyak berubah. Sensor sidik jari dalam layar masih membutuhkan lebih banyak percobaan dibandingkan pemindai model lama. Pengalaman memakai Galaxy Z Fold 8 Ultra, Pixel 11 Pro Fold, dan Galaxy Z Fold 8 semakin menegaskan perbedaan tersebut.

Ponsel lipat mempertahankan pemindai di tombol daya

Galaxy Z Fold 8 Ultra, Pixel 11 Pro Fold, dan Galaxy Z Fold 8 sama-sama menempatkan pemindai sidik jari pada tombol daya. Menggunakan ketiga perangkat tersebut mengingatkan kembali pada masa ketika desain ini menjadi praktik standar.

Sebelum teknologi sensor di bawah layar digunakan luas, sebagian besar ponsel Android menempatkan pemindai sidik jari di salah satu dari dua lokasi: tombol daya atau bagian belakang perangkat. Penulis secara pribadi lebih menyukai posisi di belakang, tetapi keduanya menawarkan ergonomi yang baik.

Saat ponsel diangkat atau dikeluarkan dari saku, jari biasanya sudah menyentuh sensornya tanpa disengaja. Tombol daya dan bagian belakang memang merupakan posisi alami untuk menggenggam ponsel.

Keunggulan besar lainnya adalah kinerjanya yang lebih baik. Pada ketiga ponsel lipat tersebut, pemindai sidik jari bekerja lebih cepat dan lebih andal daripada sensor dalam layar mana pun yang digunakan penulis dalam beberapa tahun terakhir.

Mengapa produsen tetap memilih sensor dalam layar?

Alasan perusahaan terus menggunakan teknologi yang dinilai lebih rendah ini tidak begitu jelas. Apple sepenuhnya menghindari pemindai sidik jari dalam layar melalui Face ID. Sementara itu, sangat sedikit ponsel Android yang mencoba menyamai tingkat keamanan pengenalan wajah milik iPhone. Akibatnya, pengguna harus menerima pilihan yang paling buruk di antara opsi yang tersedia.

Jawaban atas keputusan semacam ini biasanya berkaitan dengan biaya. Namun, sensor sidik jari di bawah layar justru lebih mahal daripada pemindai kapasitif bergaya lama, sehingga keputusan tersebut menjadi semakin membingungkan. Pada awal kemunculannya, sensor dalam layar merupakan fitur futuristis yang menarik untuk dipromosikan, tetapi kini fitur itu jarang disebutkan dalam pemasaran.

Ponsel lipat sendiri tidak memiliki banyak pilihan selain mempertahankan desain lama. Perangkat harus bisa dibuka kuncinya saat dalam keadaan terbuka maupun tertutup. Menempatkan pemindai sidik jari pada tombol daya jauh lebih masuk akal daripada memasang sensor di bawah kedua layar.

Pemindai sidik jari kapasitif tentu bukan satu-satunya alasan untuk membeli ponsel lipat seharga $2.000. Meski demikian, keberadaan fitur tersebut tetap menjadi bonus kecil yang menyenangkan, terutama karena menawarkan kecepatan dan keandalan yang belum mampu diberikan sensor dalam layar.

Poin penting

  • Sensor dalam layar sejak 2018
  • Pemindai ultrasonik berstandar Class 3
  • Tombol daya lebih ergonomis
  • Pemindai kapasitif lebih andal
  • Tiga ponsel lipat utama
  • Harga ponsel lipat $2.000

Sumber: https://www.howtogeek.com/im-tired-of-in-display-fingerprint-sensorsfoldables-prove-theres-a-better-way/

Lihat juga