
Ringkas: Laptop lama dengan layar rusak bisa diubah menjadi home server untuk media, backup, smart home, hingga DNS jaringan rumah. Dalam pengalaman ini, perangkat Lenovo lawas justru menjadi komponen aktif paling berguna di jaringan.
Saat ada orang baru datang ke rumah, salah satu pertanyaan pertama yang sering muncul adalah mengapa ada laptop acak yang tersambung ke router. Tergantung seberapa paham teknologi orang tersebut, jawabannya biasanya berkisar dari, “Oh, itu cuma untuk film,” sampai, “Ini home server saya, dan begini cara kerjanya.” Inilah alasan sebenarnya mengapa sebuah laptop berusia sekitar satu dekade tetap menyala di samping router.
Laptop lama berawal sebagai media server rumahan sederhana
Awalnya, proyek ini sangat sederhana. Penulis mengakui bahwa dirinya bukan tipe orang yang banyak mengutak-atik Linux. Selama ini ia hanya memakai PC desktop Windows dan ponsel Android yang sesekali digunakan untuk hal-hal menarik, tetapi tidak lebih dari itu.
Setelah berbulan-bulan berbincang dengan rekan-rekan di How-To Geek dan mempertimbangkan apakah perlu membeli NAS untuk memulai home media server, ia menyadari bahwa semua yang dibutuhkan sebenarnya sudah ada. Ia bisa membangunnya dari laptop lama dengan layar rusak yang sudah disimpan bertahun-tahun.
Laptop itu bukan perangkat istimewa. Modelnya adalah Lenovo Miix 2-in-1 lama dengan prosesor i5-7200U, RAM solder 4GB, dan NVMe 128GB.
Ia tahu suatu saat akan menemukan cara untuk memakai ulang laptop tersebut. Hari itu akhirnya datang ketika ia memutuskan mengubahnya menjadi proyek skala kecil, sekadar untuk melihat apakah proyek seperti ini cocok untuknya. Cara ini terasa jauh tidak menakutkan dibanding menghabiskan ratusan dolar untuk perangkat yang mungkin tidak akan dipakai.
Ia kemudian membeli hub USB-C murah dengan output HDMI, beberapa port USB tambahan, dan pembaca kartu microSD. Setelah berhasil memasang Ubuntu Server di laptop tersebut, ia menyambungkan beberapa USB flash drive yang ada di rumah untuk memperluas penyimpanan internal 128GB yang kecil, agar tersedia ruang untuk beberapa file backup besar, film, dan acara.
Berikutnya, ia memasang Jellyfin, menghabiskan waktu untuk memahami cara menyiapkan dan mengoptimalkannya sesuai kebutuhan, lalu memasukkan sejumlah media lama yang sudah dimiliki.
Permulaannya memang sederhana, tetapi akhirnya ia punya perangkat yang dapat dengan mudah melakukan streaming konten ke semua perangkat lain di rumah.
Dari Jellyfin ke self-hosting dengan Docker dan aplikasi lain
Perjalanan homelab itu bermula sederhana, tetapi ternyata mesin Jellyfin kecil tersebut jauh lebih menyenangkan dari perkiraan. Tidak lama kemudian, penulis masuk lebih jauh ke dunia self-hosting.
Ia mulai mencari aplikasi self-hosted lain yang bisa dijalankan di home server. Rekannya, Patrick, menyarankan penggunaan Docker untuk mengelola aplikasi di lingkungan masing-masing yang disebut container. Container membantu menjaga sistem tetap bersih dan lebih mudah dipecahkan masalahnya. Karena itu, ia menggunakan Docker dan membangun ulang Jellyfin.
Pertama-tama, semuanya dioptimalkan di sekitar Jellyfin, dengan menambahkan aplikasi seperti Sonarr, Radarr, Lidarr, dan Bazarr untuk mengelola pustaka media.
Kemudian ia menemukan Immich. Setelah mencobanya beberapa saat, ia menyadari bahwa Google Photos bisa digantikan jika ia berinvestasi pada hard drive eksternal. Ia pun melakukannya. Ia membeli hard drive 6TB untuk menggantikan USB flash drive kecil yang mudah panas, lalu memindahkan semua gambar pribadi yang terkumpul selama bertahun-tahun ke server.
Setelah itu, ia menambahkan Home Assistant dan memigrasikan seluruh smart home ke sana. Daftarnya terus bertambah sejak saat itu. Ia sulit percaya bahwa laptop tua dengan CPU 2-core dan RAM hanya 4GB mampu melakukan semua itu. Semua layanan kecil tersebut berjalan terus-menerus di latar belakang tanpa gagal.
AdGuard Home membuat laptop lama aktif di jaringan
Salah satu aplikasi self-hosted paling penting dan menarik yang berjalan di laptop tersebut adalah AdGuard Home. Ini adalah server DNS untuk seluruh jaringan yang menyaring trafik yang tidak diinginkan, seperti tracker dan telemetri. DNS adalah sistem yang membantu menerjemahkan nama situs menjadi alamat yang dapat dituju perangkat di internet.
Awalnya, AdGuard Home dipasang hanya untuk melihat cara kerjanya. Namun, penulis segera menemukan bahwa memindahkan penanganan DNS dari router yang kurang bertenaga ke laptop adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan untuk jaringannya.
Biasanya, router harus melakukan banyak pekerjaan: mengarahkan trafik antara internet dan jaringan lokal, memberikan alamat IP, menangani forwarding DNS, mengelola Wi-Fi, meneruskan trafik antarperangkat, dan banyak lagi. Bahkan salah satu tugas tersebut bisa cukup berat untuk router kelas hemat. Dalam kasus penulis, penanganan DNS terkadang tampak ikut terdampak.
Namun setelah AdGuard Home dijalankan, beberapa filter kustom disiapkan, dan aplikasi itu ditetapkan sebagai server DNS utama di router, pengalaman menjelajah web menjadi jauh lebih cepat di setiap perangkat. Alih-alih menunggu beberapa detik agar halaman web dimuat saat router kewalahan memproses permintaan DNS, semuanya terbuka hampir seketika.
Hal ini masuk akal. Meski sudah tua, laptop tersebut jauh lebih bertenaga dan secara umum memiliki lebih sedikit pekerjaan dibanding router, sehingga lebih mudah menangani permintaan DNS. Laptop itu juga memiliki RAM yang jauh lebih besar, sehingga dapat menyimpan respons DNS di cache untuk akses cepat ketika sebuah halaman sudah pernah dimuat.
Kontrol jaringan lebih besar lewat AdGuard Home
Performa bukan satu-satunya manfaat AdGuard Home. Aplikasi ini memungkinkan penulis memantau permintaan DNS di seluruh jaringan, memasukkan domain tertentu ke blacklist atau whitelist, bahkan sepenuhnya memblokir beberapa perangkat, seperti gadget smart home, agar tidak mengakses dunia luar.
Begitu saja, laptop yang sebelumnya tersimpan di laci berubah menjadi bagian yang sangat aktif dari jaringan.
Melihat besarnya manfaat memindahkan DNS dari router, penulis mempertimbangkan untuk menambahkan perangkat kedua yang lebih kecil sebagai cadangan jika AdGuard Home di laptop tersebut suatu saat mati atau terlalu lama merespons karena banyaknya hal lain yang berjalan.
Perlu dicatat bahwa selain AdGuard Home, ada layanan DNS lain, seperti Pi-hole yang bisa berjalan dengan mudah di Raspberry Pi, Technitium DNS Server, dan Unbound.
Pada akhirnya, aplikasi-aplikasi ini sangat berguna jika Anda peduli pada jaringan sendiri, karena memberikan kontrol lebih besar atas cara DNS ditangani di jaringan, sambil berpotensi menghadirkan beberapa manfaat performa tidak langsung.
Sulit dipercaya bahwa seluruh setup ini bermula dari laptop yang mungkin hanya akan dilirik sekilas oleh kebanyakan orang di garage sale atau pasar loak. Melihat layarnya rusak, mereka mungkin akan melewatkannya bahkan jika harganya hanya $20.
Setelah diutak-atik dan diisi kumpulan aplikasi self-hosted, laptop itu berubah menjadi semacam pisau Swiss Army untuk home server, menangani banyak hal mulai dari backup dan media hingga smart home dan, yang paling mengesankan, DNS.
Poin penting
- Laptop lama jadi home server
- Jellyfin untuk streaming media
- Docker dan aplikasi self-hosted
- AdGuard Home untuk DNS
- Kontrol jaringan lebih besar