Jumat, 04 September 2026, September 04, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-05T00:37:17Z
BeritaGoogleTech

Google Lolos dari Pemecahan Bisnis Iklan, Hakim Minta Perubahan

Jumat, 04 September 2026

Google Lolos dari Pemecahan Bisnis Iklan, Hakim Minta Perubahan

Ringkas: Google tidak diwajibkan memecah bisnis iklan digitalnya, tetapi hakim federal memerintahkan perubahan praktik bisnis agar lebih menguntungkan pesaing.

Departemen Kehakiman AS telah bertahun-tahun berupaya memecah bisnis iklan Google yang sangat besar melalui dua gugatan antitrust terpisah: satu diajukan pada 2020 dan berfokus pada dominasi Google di pencarian, sementara gugatan kedua diajukan pada 2023 dan secara khusus menargetkan bisnis teknologi iklan Google.

Gugatan antitrust Google dan dominasi iklan digital

Kedua perkara tersebut berargumen bahwa cengkeraman raksasa pencarian itu atas ekonomi iklan digital merupakan monopoli ilegal. Dalam konteks ini, antitrust merujuk pada aturan persaingan usaha yang bertujuan mencegah perusahaan menyalahgunakan kekuatan pasar.

Pengadilan sebagian besar berpihak kepada pemerintah dalam kedua kasus. Pada 2024, sebuah pengadilan menyatakan bahwa bisnis pencarian Google, termasuk operasi iklan pencariannya yang sangat menguntungkan, merupakan monopoli ilegal. Pengadilan menyebut raksasa teknologi itu telah “exercised its monopoly power” untuk mendominasi industri pencarian dan iklan pencarian.

Pada April lalu, perkara pengadilan kedua yang secara khusus berfokus pada bisnis ad-tech Google juga mencapai kesimpulan yang sama. Ad-tech adalah teknologi iklan, yakni sistem dan alat yang digunakan untuk membeli, menjual, menayangkan, dan mengukur iklan digital.

Hakim izinkan Google mempertahankan bisnis iklan

Setelah putusan 2024, pejabat Departemen Kehakiman mengusulkan berbagai cara untuk memecah bisnis pencarian Google, termasuk melepas browser Chrome dan sistem operasi Android. Namun pada September 2025, hakim yang menangani perkara tersebut, Amit Mehta, menolak permintaan divestasi itu dan memutuskan bahwa Google dapat tetap mempertahankan Chrome dan Android.

Mehta memang memerintahkan perusahaan untuk menghentikan kesepakatan eksklusif penempatan default dan membagikan data pencarian tertentu kepada pesaing. Upaya pemulihan tersebut saat ini sedang diajukan banding oleh Google.

Pola yang sama terjadi pekan ini. Dalam putusan yang dijatuhkan pada Rabu, hakim federal Leonie M. Brinkema dari Eastern District of Virginia, yang menangani perkara ad-tech, mengatakan bahwa Google dapat mempertahankan bisnis periklanannya.

Alih-alih menjual bisnis tersebut, raksasa pencarian itu diwajibkan menyesuaikan praktik bisnisnya agar lebih berpihak kepada pesaing, kata Brinkema. The New York Times mencatat bahwa putusan hakim “did not provide specifics” tentang bagaimana Google harus melakukannya.

Putusan tertulis lengkap Brinkema akan tetap disegel selama 14 hari agar pihak-pihak yang terlibat dapat melakukan redaksi yang diperlukan. Temuan Brinkema bahwa Google telah bertindak ilegal dalam mempertahankan bisnis ad-tech-nya berasal dari April tahun lalu; keputusan pekan ini hanya membahas upaya pemulihan.

Respons Google atas putusan bisnis iklan

Tidak mengejutkan, Google menggambarkan hasil ini sebagai kemenangan. Lee-Anne Mulholland, wakil presiden urusan regulasi Google, mengatakan kepada TechCrunch:

“We’re very pleased the Court rejected the DOJ’s proposal to break apart tools that help small businesses reach new customers and grow.”

Ekosistem periklanan online dikenal sangat tidak transparan dan rumit, serta bagi kebanyakan orang yang tidak akrab dengan kompleksitasnya, sulit dipahami. Sebagian besar perkara ad-tech pemerintah terhadap Google berkisar pada taktik perusahaan untuk memastikan mesin pencarinya menjadi mesin default di berbagai perangkat di seluruh dunia, yang pada gilirannya juga membantu bisnis iklannya mendominasi.

Menurut argumen pemerintah, Google menggunakan perjanjian eksklusif dengan produsen perangkat untuk menjadikannya mesin pencari default di sebagian besar pasar ponsel. Google juga membuat perjanjian bagi hasil dengan operator seluler, yaitu kesepakatan di mana operator mendapat bagian dari pendapatan iklan sebagai imbalan karena mempertahankan Google sebagai pilihan default. Kesepakatan itu semakin memperkuat posisinya sebagai mesin pencari de facto di pasar ponsel.

Kesimpulannya, Google kembali terhindar dari pemecahan bisnis besar yang diminta pemerintah, tetapi tetap menghadapi perintah perubahan praktik bisnis dalam perkara antitrust terkait teknologi iklan.

Poin penting

  • Google pertahankan bisnis iklan
  • Putusan hakim Leonie Brinkema
  • Remedi tanpa rincian spesifik
  • Chrome dan Android tetap dipertahankan
  • Kesepakatan default jadi sorotan

Sumber: https://techcrunch.com/2026/09/02/google-spared-from-ad-business-breakup-but-judge-orders-changes-to-how-it-operates/

Lihat juga