
Ringkas: Galaxy Z Fold 8 disebut mengadopsi layar internal berformat 4:3, mengingatkan pada LG Optimus Vu 2012 yang dulu dianggap terlalu lebar. Teknologi layar lipat dan dukungan software modern membuat rasio ini lebih masuk akal.
Semangat salah satu ponsel Android paling unik dari LG, Optimus Vu, kembali terlihat pada Samsung Galaxy Z Fold 8. Ponsel berbentuk hampir persegi dari 2012 itu dahulu tidak populer, tetapi rasio layar 4:3 yang digunakannya kini diterapkan Samsung pada layar lipat internal Galaxy Z Fold 8.
LG Optimus Vu dan layar 4:3 yang terlalu lebar
LG Optimus Vu merupakan ponsel Android “phablet”, yaitu gabungan ponsel dan tablet, yang dirilis untuk menyaingi Samsung Galaxy Note pertama. Galaxy Note hadir setahun sebelumnya dan cukup populer di kalangan penggemar.
Galaxy Note mengubah resolusi 720x1280 yang umum pada masa itu menjadi 800x1280, sehingga menghasilkan rasio 16:10. Meski disukai banyak pengguna, perangkat tersebut juga dikritik karena terlalu besar, hampir seukuran tablet, dan tidak nyaman dibawa di saku.
LG mengambil pendekatan yang berlawanan. Optimus Vu memakai layar 5,0 inci beresolusi 768x1024 dengan rasio 4:3. Ukurannya sedikit lebih pendek, tetapi jauh lebih lebar. Rasio 4:3 memang umum pada komputer, sementara sebagian besar ponsel Android flagship saat itu sudah beralih ke rasio 16:9 yang digunakan banyak aplikasi, termasuk YouTube.
LG ingin menyediakan area layar lebih luas untuk produktivitas, menjelajah web, dan membaca, sambil menjaga ukuran keseluruhan perangkat tetap relatif mudah dimasukkan ke saku. Namun, bezel ponsel pada masa itu masih sangat tebal. Dengan lebar 83 mm, Galaxy Note sudah tergolong besar, sedangkan Optimus Vu mencapai 90,4 mm sehingga terasa tidak praktis bagi kebanyakan orang.
LG juga menghadirkan dukungan stylus tanpa menyediakan tempat penyimpanan stylus di dalam perangkat. Ini menjadi kekurangan besar dibandingkan Galaxy Note, yang memiliki stylus dan slot penyimpanan di bagian bawah. Rasio 4:3 sebenarnya cocok untuk aktivitas seperti mencatat dan menggambar, tetapi pengguna Optimus Vu harus membawa stylus secara terpisah sehingga mudah hilang.
Mengapa layar 4:3 Optimus Vu gagal digunakan luas
Pada 2012, Android masih berada dalam tahap awal perkembangan. Sistem operasi dan aplikasi memang diharapkan mendukung berbagai resolusi serta ukuran layar karena banyaknya variasi ponsel dan tablet. Namun, pengembang belum siap menghadapi ponsel LG dengan rasio 4:3 yang sangat tidak umum.
Aplikasi buatan LG kompatibel dengan layar tersebut, tetapi banyak aplikasi pihak ketiga kesulitan memanfaatkannya. Masalah penskalaan muncul dalam bentuk tombol yang melebar dan ruang layar yang tidak terpakai. YouTube juga bukan pengalaman yang baik karena rasio 4:3 jauh lebih persegi dibandingkan rasio horizontal 16:9 yang digunakan video di platform tersebut.
Dalam ulasan CNET pada masa itu, pengguna Optimus Vu disebut harus memilih antara meregangkan video secara berlebihan agar memenuhi layar atau menerima bilah hitam yang sangat besar. Karena Optimus Vu memakai layar IPS, bukan OLED, area hitam tersebut tetap menyala dan semakin mengganggu pengalaman menonton.
Dengan kata lain, rasio layar itu menghadirkan hampir semua kekurangan ponsel yang sangat lebar tanpa memberikan banyak manfaat, karena software belum siap mendukungnya.
Galaxy Z Fold 8 membuat bentuk layar ini lebih masuk akal
Setelah Optimus Vu dirilis, sangat sedikit produsen yang membuat ponsel 4:3. LG memang melanjutkannya melalui Optimus Vu 2 dan 3, tetapi setelah LG menghentikan gagasan tersebut, tidak ada lagi merek Android arus utama yang menggunakan layar 4:3 selama bertahun-tahun.
Kondisi itu berubah pada Galaxy Z Fold 8. Dalam perubahan pendekatan besar dari generasi sebelumnya, Samsung mengubah layar lipat internal ponsel tersebut menjadi rasio 4:3. Rumor menyebut langkah ini dilakukan agar Samsung mendahului iPhone lipat Apple yang juga dikabarkan akan memakai bentuk “passport-style”.
Perubahan ini memiliki beberapa manfaat. Layar luar yang lebih lebar dapat digunakan dengan lebih nyaman untuk aktivitas sehari-hari seperti mengambil foto dan mengetik pesan, sekaligus menjaga bentuk ponsel sedikit lebih mudah dimasukkan ke saku.
Saat dibuka, layar internalnya menjadi hampir persegi dan mudah digunakan dengan dua tangan. Area layar yang besar bermanfaat untuk multitasking, membaca ebook, bermain game, serta berbagai aktivitas lain. Karena layarnya dapat dilipat, pengguna tidak perlu memasukkan ponsel yang sangat lebar ke saku seperti pada Optimus Vu.
Software juga berkembang pesat sejak era Optimus Vu. Kini banyak aplikasi dapat menyesuaikan tampilan secara dinamis untuk tablet atau tata letak dua panel, terlepas dari ukuran layar yang digunakan.
Apakah ponsel biasa juga cocok memakai layar 4:3?
Layar 4:3 tidak harus menjadi fitur eksklusif ponsel lipat mahal. Banyak orang tidak memiliki anggaran atau kebutuhan untuk ponsel lipat, tetapi tetap dapat memperoleh manfaat dari ponsel biasa dengan rasio tersebut.
Layar 5,5 inci dengan rasio 4:3 akan memiliki bentuk yang relatif pendek dan mudah dibawa, sekaligus menyediakan sekitar 14,5 inci persegi area layar untuk berbagai aktivitas. Sebagai perbandingan, Samsung Galaxy S26+ memiliki sekitar 17 inci persegi area layar.
Berbeda dari Optimus Vu, ponsel modern dapat menggunakan bentuk ini tanpa membuat penggunaan sehari-hari terasa seperti latihan fisik. Ponsel kini jauh lebih tipis dan lebih baik dirancang. Perhitungan dalam sumber menyebut ponsel biasa dengan layar 5,5 inci berasio 4:3 akan memiliki lebar sekitar 75 mm, kurang lebih sama dengan Samsung Galaxy S26+, tetapi tanpa tinggi tambahan. Hasilnya adalah perangkat dengan ukuran keseluruhan yang terasa lebih kecil dan lebih mudah disimpan di saku.
Pengguna dengan tangan besar juga dapat memperoleh manfaat tambahan. Layar 4:3 yang lebih lebar memberi ibu jari lebih banyak ruang saat mengetik, sehingga tangan tidak cepat terasa sempit setelah menulis beberapa paragraf.
Mengedit foto, melakukan multitasking, navigasi, dan mungkin bermain game juga dapat terasa lebih nyaman pada layar lebar. Jendela bidik kamera dan galeri dapat memanfaatkan layar secara lebih optimal karena kamera ponsel umumnya mengambil foto secara native dalam rasio 4:3.
Namun, rasio 4:3 bukan tanpa kekurangan. Di luar film The Odyssey karya Nolan, sebagian besar konten video akan menampilkan bilah hitam besar sehingga ukuran video terlihat kecil dibandingkan rasio layar yang lebih umum. Masalah ini tidak terlalu terasa pada ponsel lipat karena perangkat tersebut memang sudah memiliki layar berukuran besar.
Banyak aplikasi juga menjadikan scrolling sebagai bagian utama pengalaman pengguna. Pada layar 4:3, pengguna harus lebih sering menggulir karena layar tidak dapat menampilkan konten vertikal sebanyak layar yang lebih tinggi. Jika tujuannya mengurangi waktu doomscrolling, kondisi ini mungkin justru menjadi manfaat tambahan.
LG Optimus Vu mungkin memang memiliki gagasan yang tepat, tetapi hadir pada waktu yang belum sesuai. Rasio 4:3 tidak cocok untuk semua ponsel Android karena layar tinggi masih memiliki banyak keunggulan. Meski demikian, Galaxy Z Fold 8 menunjukkan bahwa konsep dasar Optimus Vu tidak sepenuhnya keliru; konsep itu membutuhkan teknologi dan dukungan software yang tepat. Produsen Android dapat kembali bereksperimen dengan bentuk layar yang tidak biasa agar pengguna memiliki lebih banyak pilihan rasio layar.
Poin penting
- Galaxy Z Fold 8 berasio 4:3
- LG Optimus Vu dirilis pada 2012
- Lebar Optimus Vu mencapai 90,4 mm
- Software modern mendukung tampilan dua panel
- Layar 4:3 punya bilah hitam video