
Ringkas: BMW iX3 memperlihatkan sejauh mana tren layar sentuh mobil didorong industri otomotif, dengan banyak kontrol fisik diganti menu digital. BMW menyebut pergeseran ini terkait preferensi pembeli yang lebih muda, tetapi hasilnya dinilai kurang intuitif.
BMW iX3, versi listrik terbaru dari X3, menjadi contoh paling jelas bagaimana obsesi layar sentuh di mobil telah melangkah terlalu jauh. Layar infotainment besar di SUV listrik ini bukan hanya menangani navigasi dan hiburan, tetapi juga menggantikan banyak kontrol fisik yang dulu bisa dioperasikan pengemudi tanpa harus mengalihkan pandangan dari jalan. Menurut BMW, perubahan ini mencerminkan preferensi pembeli yang lebih muda, tetapi hasil akhirnya terasa kurang intuitif alih-alih lebih canggih.
BMW iX3 membawa kontrol layar sentuh mobil ke level baru
Masalahnya bukan pada layar sentuh itu sendiri, melainkan kecenderungan industri otomotif untuk memakai layar sentuh untuk hampir semua hal. Tombol dan sakelar fisik tetap lebih cepat dan lebih mudah digunakan untuk fungsi-fungsi umum, sementara penghapusannya justru bisa membuat mobil mewah yang mahal terasa rumit tanpa alasan.
BMW baru-baru ini memperkenalkan versi listrik dari X3 yang diberi nama iX3. Merek asal Jerman itu mengambil pendekatan desain yang cukup radikal, baik di luar maupun di dalam kabin, dan hasilnya memunculkan tanggapan yang beragam. Salah satu elemen yang paling ditekankan BMW, bahkan lebih jauh dibanding banyak merek lain di pasar, adalah layar infotainment. Sayangnya, pada iX3 langkah ini dinilai sudah kelewat jauh.
Di iX3, di samping setir yang disebut sebagai salah satu yang paling berlebihan desainnya, terdapat layar infotainment 17,9 inci. Layar tablet besar itu mengisi bidang berbentuk jajaran genjang, yang secara visual juga memunculkan kesan campur aduk. Sistem ini dibekali beberapa teknologi paling mutakhir dari BMW, mulai dari asisten suara AI canggih hingga banyak aplikasi bawaan. Namun, sistem infotainment tersebut juga dipakai untuk mengontrol sejumlah fungsi sangat dasar di dalam kabin, dan hal itu dianggap mengurangi pengalaman keseluruhan.
BMW memutuskan bahwa hampir semua hal di kabin harus dikendalikan lewat layar sentuh. Tidak ada deretan kontrol iklim fisik seperti yang masih ditemui di banyak kendaraan modern lain, dan juga tidak ada kenop putar di konsol tengah bagi pengguna yang tidak menyukai layar sentuh. Pada iX3, pendekatan ini dibawa ke titik yang lebih ekstrem. Bahkan kisi-kisi ventilasi udara pun tidak memiliki tuas fisik untuk penyesuaian, sehingga penggunanya harus masuk ke menu di layar sentuh.
Iklan di mobil dan alasan BMW meninggalkan tombol fisik
Meski bukan hal yang unik di iX3, aksi pemasaran terbaru BMW juga dianggap layak disorot. Beberapa minggu lalu, pengemudi BMW yang masuk ke mobil mereka disambut iklan film Spider-Man terbaru, Spider-Man: Brand New Day. Banyak orang marah karena kendaraan mewah mereka, yang harganya mencapai puluhan ribu dolar, menampilkan iklan yang memenuhi seluruh layar infotainment. Ini merupakan tren yang juga didorong oleh iX3, dan bukan hal mengejutkan jika aksi serupa lebih sering muncul ke depannya.
Banyak orang sudah sangat vokal menyatakan ketidaksukaan terhadap langkah produsen mobil yang menjauh dari tombol fisik. Semakin banyak pembeli ikut menentang ketergantungan berlebihan pada layar sentuh. BMW mengetahui protes ini dengan sangat jelas dan tampaknya memiliki penjelasan atas keputusannya, meski penjelasan itu kemungkinan tidak akan diterima banyak orang.
Dalam wawancara dengan CarExpert, CEO BMW Australia Vikram Pawah mengatakan bahwa pergeseran ke layar sentuh tidak ada kaitannya dengan penghematan biaya, melainkan berpusat pada generasi yang lebih muda.
“We can see that voice and touch are becoming more and more common,” ... “Maybe it’s a generational thing as well. You would see that a lot of the younger generation, maybe 45 or below, they’re tapped into these technologies at a faster pace, using voice, using touch.”
Ia mengklaim bahwa basis pelanggan BMW sedang berkembang dan mereka ingin bisa melakukan berbagai hal dengan cepat serta melakukan multitasking saat bepergian. Terlepas dari kekhawatiran soal keselamatan, pandangan ini dinilai menunjukkan bahwa merek tersebut mulai kurang selaras dengan basis pelanggannya sendiri.
Tren layar sentuh besar dinilai merusak pengalaman berkendara
BMW bukan satu-satunya merek yang mengikuti arah ini. Walaupun iX3 dan ventilasi udara yang dikendalikan secara digital menjadi salah satu contoh paling jelas bahwa tren layar sentuh sudah kelewatan, ia bukan satu-satunya pelaku. Ada sejumlah produsen mobil lain di pasar yang juga meninggalkan kontrol fisik dan lebih memilih layar sentuh berukuran besar. Langkah ini dinilai lebih transparan daripada yang dibayangkan para produsen, dan pembeli melihatnya terutama sebagai upaya penghematan biaya.
Masuknya layar sentuh ke mobil tidak otomatis menjadi masalah, tetapi penerapannya harus tepat agar menambah pengalaman, bukan malah menguranginya. Menghapus tombol dan sakelar demi layar besar membuat mobil terasa lebih murah. Dampaknya terasa lebih buruk ketika dilakukan pada kendaraan mewah kelas atas seperti iX3, tetapi pilihan yang lebih umum pun tidak terbantu dengan pendekatan seperti ini.
Saat BMW memperkenalkan generasi kendaraan mereka yang sekarang, sudah terlihat bahwa mobil-mobilnya menjadi semakin kurang taktil dan semakin digital. Merek itu perlahan menjauh dari warisan sporty-nya menuju era ketika mobil diposisikan sebagai alat yang sekadar membawa pengguna dari titik A ke titik B dengan sesedikit mungkin keterlibatan dari pengemudi. iX3 menjadi langkah lain ke arah tersebut, sekaligus memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa tren layar sentuh di kendaraan telah keluar jalur.
Poin penting
- BMW iX3 dan layar sentuh mobil
- Layar infotainment 17,9 inci
- Kontrol fisik kabin dihapus
- Ventilasi udara lewat menu
- BMW sebut faktor generasi muda
- Iklan Spider-Man di infotainment
Pada akhirnya, BMW iX3 menjadi contoh nyata bagaimana penggunaan layar sentuh yang terlalu jauh justru bisa membuat interaksi sederhana menjadi lebih rumit. Alih-alih terasa lebih maju, pendekatan serba digital ini memperkuat kritik bahwa layar yang lebih besar tidak selalu berarti pengalaman berkendara yang lebih baik.
Sumber: How-To Geek